30 May 2002

“Rembulan di Ujung Dahan”: Bahasa Garin Mencintai Alam

Posted by admin under: News .

Sutradara Garin Nugroho kembali menyuguhkan karya terbarunya. Sebuah telesinema yang sarat pesan pendidikan, namun diracik dengan bumbu romantisme yang bertaburan di sana-sini. Tapi jangan salah, meski romantis, jangan berharap ada adegan-adegan seronok layaknya film-film cinta.

Rembulan di Ujung Dahan begitulah judul yang dipakai Garin dalam karyanya kali ini. Mengangkat isu tentang lingkungan hidup, namun dikemas sebagai sajian yang menghibur, komunikatif dengan suguhan gambar yang menawan hati. Mau bukti? datang saja ke Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, Kamis (30/5) sore ini, yang merupakan pemutaran terakhir sejak tanggal 28 Mei lalu.

Garin menyadari bahwa formula hiburan masih sangat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan. Dan, katanya, konsep inilah yang juga sering diterapkan di beberapa negara seperti Brazil dan Meksiko, ketika mereka mencoba mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian publik seperti masalah gender dan lingkungan hidup. Maka, lewat telesinemanya ini Garin, mencoba menerapkan hal itu. Mangajak masyarakat untuk mau kembali mencintai dan menjaga lingkungannya.

Dengarkan alunan lagu yang dinyanyikan sekelompok bocah di sebuah lahan hutan kota yang rimbun dan sunyi:

Hutan itu gericik air dari bukit sana
Bermuara di gelas dan cangkir kita
Hutan itu desau udara melintas cakrawala
Lewat paru-paru dan pori-pori kita…

Hutan itu tempat tinggal Adam kakek kita
Terlempar dari sorga. Kita ke sana, saudara.

Itulah alunan lagu yang diangkat dari puisi karya Sapardi Djoko Damono, yang keluar dari mulut-mulut mungil para murid sanggar alam pimpinan pria tanpa daksa bernama Bayu (diperankan Anton Mirzaputra, penyanyi kelompok Jamaica Cafe). Di hutan inilah, Bayu setiap harinya mengajak anak untuk mencitai tanaman langka yang tumbuh bertebaran di hutan itu, juga melatih mereka nyanyi.

Suara jernih anak-anak itu terdengar menggema. Menggairahkan kembali daun-daun yang telah layu. Hutannya memang indah, seindah kisah di balik hutan kota itu. Tersebutlah sebuah jembatan dan pohon anggrek yang menjuntai di dekatnya. Orang-orang percaya, jika sepasang laki-laki dan perempuan bertemu di jembatan di tengah hutan itu, saat malam purnama tiba dan tanaman anggrek berjuntai di ujung rembulan, maka mereka akan menjadi sepasang kekasih.

Sayang, kisah itu tak lagi bakal terdengar. Ketika seorang konglomerat hendak menyulap hutan kota itu menjadi pusat permainan dan hiburan yang megah. Adalah seorang insiyur cantik bernama Ranti (Ira Wibowo), yang mendapatkan proyek besar itu. Di sini lah konflik dan cinta mulai dikembangkan.

Awalnya, Ranti adalah sosok yang sangat sensitif, mudah terharu dan menangis. Namun, ia kemudian berubah menjadi wanita yang sangat ambisius. Keinginannya hanya satu, menjalankan proyek besar pertamanya dengan sukses. Tapi ketika emosinya berkobar, ia dihadapkan pada pilihan rumit. Di hutan kota, ia bertemu para bocah didampingi seorang pengajar lingkungan bernama Bayu, yang mencoba mempertahankan keberadaan hutan yang tersisa.

Film ini cukup menarik dengan kehadiran 15 artis cilik, yang berperan sebagai murid sanggar alam, yang tampil wajar dan spontan. Kesan lugu, polos dan tak kaku itulah yang diangkat Garin dari sosok mereka.

Aroma Romantis yang ditabur Garin, tak hanya dituangkan lewat cerita tapi juga bahasa gambar yang menawan dan lagu-lagu yang turut mendukung telesinema tersebut, yang penata musiknya digarap musisi Dwiki Darmawan. Ada alunan lagu True Love, Oh Kasihku milik Koes Plus atau Hutan dan Nocturno-nya Sapardi, yang turut menghiasi jalan cerita telesinema ini.

Rembulan di Ujung Dahan, ungkap Garin, menghabiskan anggaran sekitar Rp 550 juta. Film yang diproduksi Yayasan Kebun Raya Indonesia dan SET Film Workshop ini, kebanyakan mengambil syuting di Kebun Raya Bogor dan studio buatan di kawasan Depok dan Bogor.

Hampir 90 persen para pemainnya adalah orang-orang baru. Sebut saja, Hanifa Ratih (Ivo) yang berperan sebagai Intan, Imam Supasa (Rio), Rara Wiritanaya (Galih) dan Anton (Bayu). Sedangkan sisanya adalah artis yang sudah cukup dikenal, seperti Deddy Sutomo, Ira Wibowo dan Marini Soerjosoemarno.

Lewat Rembulan di Ujung Dahan, Garin setidaknya mencoba untuk mengajak kita untuk kembali mencintai hutan yang masih tersisa, lewat mulut-mulut bidadari kecil itu:

Hutan itu gericik air dari bukit sana
Bermuara di gelas dan cangkir kita
Hutan itu desau udara melintas cakrawala
Lewat paru-paru dan pori-pori kita…

Hutan itu tempat tinggal Adam kakek kita
Terlempar dari sorga. Kita ke sana, saudara… (eh)

http://www.kompas.com/gayahidup/news/0205/30/054044.htm

Comments are closed.

Browse

Calendar

May 2002
M T W T F S S
« Feb   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Links